AS dan Iran Sepakati MoU Perdamaian, Dana Rekonstruksi Rp5 Kuadriliun Disiapkan – Detik Kini
JAKARTA – Setelah berbulan-bulan dilanda konflik yang mengguncang Timur Tengah dan pasar energi dunia, Amerika Serikat dan Iran akhirnya mencapai titik balik penting. Kedua negara dikabarkan telah menyepakati nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang menjadi fondasi menuju penghentian permanen perang serta pemulihan ekonomi Iran.
Kesepakatan tersebut disebut telah ditandatangani secara digital oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni mendatang.
Dana Rekonstruksi 300 Miliar Dolar AS Jadi Insentif Perdamaian
Salah satu poin paling strategis dalam MoU itu adalah komitmen pemulihan ekonomi Iran. Amerika Serikat bersama negara-negara Teluk disebut membuka akses dana rekonstruksi sedikitnya 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp5 kuadriliun.
Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bantuan tersebut hanya dapat diakses apabila Iran menjalankan seluruh kewajiban yang tercantum dalam kesepakatan.
Menurut Vance, Washington tidak keberatan apabila negara-negara Teluk ikut berinvestasi dalam proses pembangunan kembali Iran.
“Jika Iran mematuhi ketentuan dalam kesepakatan tersebut, maka manfaat akan mengalir kepada mereka dan itulah yang kami harapkan,” kata Vance.
Program Nuklir Iran Menjadi Poin Utama
Sebagai imbal balik atas bantuan ekonomi, Iran diwajibkan menghentikan pengembangan senjata nuklir, menghapus cadangan uranium yang diperkaya, serta membuka akses penuh bagi inspeksi internasional.
JD Vance menyebut Badan Energi Atom Internasional (IAEA) bersama Amerika Serikat akan membantu proses penghancuran stok uranium yang telah diperkaya.
Langkah tersebut dipandang sebagai bagian inti dari upaya membangun kembali kepercayaan internasional terhadap program nuklir Iran.
Selain itu, para inspektur nuklir internasional akan diizinkan kembali memasuki wilayah Iran.
Pakistan dan Qatar Berperan sebagai Mediator
Proses negosiasi menuju MoU berlangsung selama sekitar dua bulan setelah gencatan senjata tercapai pada awal April 2026. Pakistan dan Qatar disebut memainkan peran penting sebagai mediator yang mempertemukan kepentingan kedua negara.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menekankan bahwa implementasi kesepakatan menjadi tanggung jawab Amerika Serikat, termasuk memastikan penghentian seluruh operasi militer yang masih berlangsung di kawasan.
Iran juga terus mendorong penguatan jalur diplomasi bersama Turki, Irak, dan Mesir guna menjaga stabilitas regional.
Selat Hormuz Kembali Dibuka
Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz setelah blokade Angkatan Laut AS dicabut.
Pembukaan jalur strategis tersebut menjadi perhatian dunia karena sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut. Stabilitas di Selat Hormuz dinilai penting untuk menekan gejolak harga energi dan menjaga pasokan minyak internasional.
Trump melalui Truth Social menyatakan bahwa kapal-kapal pengangkut minyak telah kembali bergerak melintasi selat tersebut.
China Sambut Kesepakatan Perdamaian
Pemerintah China menyambut positif tercapainya kesepakatan tahap pertama antara Washington dan Teheran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan stabilitas di sekitar Selat Hormuz merupakan kepentingan bersama negara-negara kawasan maupun komunitas internasional.
Beijing juga mengapresiasi peran mediasi Pakistan dan berharap seluruh pihak tetap berkomitmen pada penyelesaian konflik melalui dialog.
China menegaskan siap bekerja sama dengan masyarakat internasional guna memulihkan perdamaian dan keamanan jangka panjang di Timur Tengah.
Israel Belum Terikat Kesepakatan
Di tengah optimisme tersebut, Israel menunjukkan sikap berbeda. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menyatakan bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran tidak bersifat mengikat bagi pemerintah Israel.
Pernyataan itu mengindikasikan bahwa tantangan geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya berakhir, meskipun jalur diplomasi antara Washington dan Teheran mulai menemukan titik temu.
Kesepakatan yang akan diteken secara resmi di Swiss pada 19 Juni mendatang diperkirakan menjadi tahap awal menuju perundingan lanjutan selama 60 hari berikutnya guna menyelesaikan berbagai isu yang masih belum mencapai kata sepakat. (*)

